BONDOWOSO, PD. IPARI Bondowoso – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan cenderung individualistik, tradisi makan bersama dalam satu wadah mungkin tampak sederhana, bahkan dianggap kuno. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan ajaran mendalam dari Rasulullah Saw., tentang kebersamaan, keberkahan, dan keadilan sosial.
Di berbagai pondok pesantren, terutama di Kabupaten Bondowoso yang dikenal religius, sejuk, dan sarat nilai,nilai kiai, tradisi ini masih hidup dan dijaga dengan penuh cinta. Para santri duduk melingkar di sekitar satu talam besar, menikmati nasi, sayur, dan lauk sederhana dengan tangan kanan sambil sesekali berbagi senyum dan canda. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan. Semua sama di hadapan rezeki yang dibagikan dengan penuh keberkahan.

Tradisi tersebut berakar langsung dari kehidupan Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
βMakanlah kalian bersama,sama dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu akan diberkahi untuk kalian.β (HR. Abu Dawud no. 3764)
Rasulullah Saw., tidak hanya mengajarkan apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana cara makan yang membawa nilai spiritual. Beliau makan dengan penuh adab: duduk tenang, menyebut nama Allah, mengambil makanan dari bagian terdekat, serta kerap berbagi wadah dengan para sahabat. Bagi beliau, makan bukan sebatas memenuhi kebutuhan jasmani, melainkan sarana menanamkan akhlak, kesederhanaan, dan kebersamaan.
Satu wadah menjadi ruang kesetaraan, tempat hilangnya perbedaan strata sosial. Semua duduk sejajar dan sama,sama bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah. Selain itu, makan bersama melatih keikhlasan dan kesabaran. Terkadang lauk yang tersedia sangat sederhana, tetapi rasa kebersamaan menjadikannya terasa nikmat. Inilah keberkahan yang dimaksud Rasulullah Saw., bukan banyaknya makanan, tetapi hati yang merasa cukup dan bersyukur.

Kegiatan Khotmil Qurβan dan Pengembangan Kompetensi Penyuluh Agama Islam yang diselenggarakan pada Kamis, 27 November 2025, bukan sekadar agenda resmi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang kebersamaan yang mempererat tali persaudaraan antarpenyuluh agama Islam.
Tradisi makan bersama yang dilakukan setelah acara inti menjadi simbol kesederhanaan, kesetaraan, dan kehangatan. Sebanyak 116 penyuluh agama Islam bersama seluruh pengurus PD IPARI Kabupaten Bondowoso duduk bersama dalam satu wadah, mencerminkan nilai Setara Cinta, kesetaraan dalam rasa, cinta dalam kebersamaan.
Ketua PD IPARI Bondowoso, Imam Huzaeni, S.Ag., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan Penyuluh Agama Islam dengan slogan SETARA CINTA β Semangat Tanggung Rasa, Agama, dan Cinta Kasih kepada Sesama. Menurutnya, kecintaan terhadap Al,Qurβan harus menjadi dasar perilaku dan gerakan para penyuluh dalam menginspirasi serta membina masyarakat. Penyuluh, katanya, harus mampu menjadi aktor penggerak yang menyelaraskan nilai,nilai agama dengan cinta kasih dalam kehidupan sosial.
Apresiasi tinggi disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, Dr. H. Moh. Ali Masyhur, S.Ag., M.HI. Beliau menilai kegiatan ini mampu memperkuat kapasitas penyuluh sekaligus membangun soliditas kelembagaan. Nada serupa disampaikan Kasubbag TU, Samson Hidayat, S.Ag., M.Pd.I, serta Kasi Bimas Islam, Dr. Suharyono, S.Ag., M.H. Keduanya menegaskan bahwa kegiatan tersebut sangat strategis bagi pembinaan profesi, penguatan kebersamaan, dan perkembangan dakwah penyuluh agama Islam di Bondowoso.
Dengan kebersamaan yang terus dirawat melalui tradisi makan bersama serta kegiatan rutin yang sarat nilai spiritual, para Penyuluh Agama Islam Kabupaten Bondowoso diharapkan semakin solid, inspiratif, dan mampu menjadi teladan dalam menyebarkan ajaran Islam yang damai, moderat, dan penuh cinta.
Peran Penyuluh Agama Islam: Menyebarkan Nilai, Menyatu dengan Umat
Sebagai garda terdepan dakwah, penyuluh agama Islam di Kabupaten Bondowoso memegang peran penting dalam menjaga nilai,nilai seperti kebersamaan dan keadilan sosial tetap hidup. Di era dengan tantangan moral dan sosial yang semakin kompleks, penyuluh bukan hanya penyampai ceramah, melainkan penanam nilai spiritual dan sosial yang dicontohkan Rasulullah Saw.
Melalui kegiatan penyuluhan, majelis taklim, dan program dakwah sosial, para penyuluh dapat:
- Menanamkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial.
- Menghidupkan kembali adab makan Islami: membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, dan berbagi dalam satu wadah.
- Mendorong masyarakat mengutamakan gotong royong dalam kegiatan sosial dan keagamaan.
- Menjadikan makan bersama sebagai simbol dakwah kasih sayang, bukan hanya ritual, tetapi wujud nyata Islam rahmatan lil βalamin.
Dakwah yang Menghangatkan, Bukan Menghakimi
Bayangkan sebuah kegiatan di masjid atau majelis taklim: setelah penyuluh memberikan tausiyah singkat tentang syukur dan kebersamaan, acara ditutup dengan makan bersama dalam satu wadah. Suasana hangat, penuh tawa, doa, dan kebersamaan. Tidak ada jarak antara penyuluh dan warga, ustaz dan jamaah. Dari wadah yang sama itulah tumbuh rasa persaudaraan yang tulus, dakwah yang hidup, dakwah yang menyentuh hati.
Tradisi seperti ini mampu menjembatani jarak sosial, menumbuhkan empati, dan mempererat hubungan antarwarga. Dari satu wadah, tumbuh seribu kebaikan dan keberkahan.

Dari Sunnah Menjadi Budaya
Makan bersama dalam satu wadah bukan sekadar tradisi pesantren, tetapi warisan sunnah Nabi Muhammad Saw. yang relevan sepanjang masa. Di tengah budaya individualistik, ia hadir sebagai pengingat bahwa keberkahan hidup lahir dari kebersamaan dan rasa syukur.
Melalui peran penyuluh agama Islam di Bondowoso, tradisi ini dapat terus dijaga dan dikembangkan, bukan hanya di pesantren, tetapi juga di tengah masyarakat luas. Karena sejatinya, dakwah tidak selalu disampaikan dengan kata-kata. Kadang, ia hadir melalui sendok yang dibagi bersama dalam satu wadah penuh cinta dan keberkahan.
Penulis: Imam Huzaeni (Ketua PD. IPARI Bondowoso)
