Mencari Langit di Tengah Ramai

BONDOWOSO, PD. IPARI Bondowoso – Sepuluh malam terakhir Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda. Masjid yang biasanya mulai sepi setelah tarawih kini justru semakin hidup. Lampu tetap menyala hingga menjelang subuh. Orang-orang datang membawa sajadah, mushaf, tas kecil berisi makanan sahur, dan harapan yang diam-diam mereka simpan di dalam hati.

Mereka datang untuk satu tujuan yang sama: mencari malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Namun, itikaf tidak selalu dipenuhi kesunyian seperti yang sering dibayangkan. Di dalam masjid, kehidupan tetap bergerak. Ada yang membaca Al-Qur’an dengan suara lirih, ada yang terlelap karena tubuhnya letih setelah bekerja seharian. Beberapa orang berbagi makanan sahur, berbincang pelan, atau tersenyum saling menyapa.

Masjid menjadi ruang yang penuh dengan manusiaβ€”dan segala ceritanya.

Di tengah keramaian itu, setiap orang sebenarnya sedang menjalani perjalanan yang sangat pribadi. Seseorang duduk bersandar pada tiang masjid, menunduk lama setelah selesai shalat. Barangkali ia sedang mengingat kesalahan yang pernah dilakukan. Barangkali ia sedang memohon jalan keluar dari kesulitan hidup yang belum juga menemukan terang.

Ada pula yang membaca ayat demi ayat dengan perlahan, seakan tidak ingin malam berlalu terlalu cepat. Ada yang mengangkat tangan dalam doa yang panjang, berharap ada satu permohonan yang menembus langit.

Itulah wajah itikaf yang sesungguhnya: ramai di luar, tetapi sunyi di dalam hati.

Di luar masjid, dunia berjalan dengan kebisingannya sendiriβ€”berita yang tak henti, urusan pekerjaan, tuntutan hidup yang terus bertambah. Manusia sering merasa hidup terlalu cepat, terlalu penuh, terlalu padat oleh hal-hal yang tidak selalu memberi ketenangan.

Maka sepuluh malam terakhir menjadi seperti jeda yang sangat berharga.

Di sinilah manusia mencoba menata ulang arah hatinya. Di antara suara langkah orang yang berlalu-lalang, di sela lantunan ayat yang bergema pelan, seseorang mencoba menengadahβ€”bukan sekadar ke langit yang terlihat oleh mata, tetapi ke langit tempat doa-doa berlabuh.

Karena sesungguhnya, mencari Lailatul Qadar adalah mencari kedekatan yang paling jujur antara manusia dan Tuhannya.

Dan kedekatan itu tidak selalu lahir dari kesunyian yang sempurna.

Ia bisa tumbuh di tengah keramaian. Ia bisa muncul saat seseorang tiba-tiba terdiam di antara banyak orang. Ia bisa hadir ketika hati yang lelah akhirnya menemukan keberanian untuk berkata, β€œYa Allah, aku ingin kembali.”

Barangkali itulah makna terdalam dari malam-malam terakhir Ramadan: manusia datang dengan segala keramaiannya, tetapi pulang dengan hati yang lebih dekat kepada langit.

Sebab pada akhirnya, langit tidak hanya dicari dalam kesunyian. Langit juga bisa ditemukan oleh hati yang menengada, meski berada di tengah ramai.

Oleh Imam Huzaeni (Ketua PD. IPARI Bondowoso)