BONDOWOSO, PD. IPARI Bondowoso – Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan momentum penting bagi umat Hindu untuk mempertegas kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan) serta meneguhkan hubungan spiritual dengan leluhur. Di tengah keberagaman Indonesia, dua hari suci ini tidak hanya menjadi perayaan religius umat Hindu, tetapi juga cermin kebhinekaan yang memperkaya wajah harmoni bangsa.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki kemajemukan tinggi, kehadiran penyuluh agama Islam menjadi salah satu kunci strategis untuk menguatkan nilai moderasi beragama. Peran mereka bukan hanya sebagai pembimbing umat, tetapi juga sebagai jembatan sosial yang menghadirkan kedamaian dan saling pengertian lintas keyakinan.
Galungan dan Kuningan sebagai Momentum Penguatan Moderasi Beragama
Moderasi beragama mengajarkan pentingnya sikap seimbang, toleran, dan menghormati keberagaman. Nilai-nilai ini menemukan relevansinya pada saat umat Hindu melaksanakan rangkaian upacara Galungan dan Kuningan.
Melalui perayaan ini, masyarakat diajak untuk menyadari bahwa setiap agama memiliki cara masing-masing dalam mengekspresikan rasa syukur, pengabdian, dan doa kepada Tuhan. Kesadaran inilah yang perlu terus dipupuk agar tidak hanya berhenti pada tingkat pengetahuan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap sosial.
Peran Penyuluh Agama Islam
Sebagai representasi Kementerian Agama di lapangan, penyuluh agama Islam memiliki posisi strategis dalam memperkuat suasana kerukunan saat hari-hari besar keagamaan. Di antaranya melalui:
1. Menyampaikan Edukasi mengenai Toleransi dan Kerukunan
Penyuluh memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa menghargai umat Hindu yang sedang menjalankan Galungan dan Kuningan adalah bagian dari ajaran Islam tentang toleransi (tasamuh). Sikap saling menghormati inilah yang menjadi pondasi kerukunan antarumat beragama.
2. Menginisiasi Dialog dan Silaturahmi Antaragama
Melalui kegiatan kunjungan, diskusi ringan, atau menghadiri undangan adat, penyuluh memperlihatkan keteladanan dalam menjalin hubungan harmonis. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa agama membawa damai dan persaudaraan.
3. Mendorong Partisipasi Sosial yang Inklusif
Dalam momentum hari raya, penyuluh seringkali menjadi penggerak masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang tertib, aman, dan nyaman bagi tetangga yang sedang beribadah. Hal ini sejalan dengan semangat moderasi beragama yang menekankan pentingnya kontribusi sosial lintas kepercayaan.
4. Menguatkan Sikap Empati dan Tenggang Rasa
Penyuluh berperan memberikan contoh sikap menghargai tradisi dan budaya umat Hindu, misalnya dengan menjaga ketenangan saat upacara berlangsung, memberikan ucapan selamat, hingga membantu jika diperlukan. Empati adalah jembatan paling kuat dalam membangun kehidupan yang harmonis.
Mewujudkan Indonesia Rukun melalui Moderasi Beragama
Perayaan Galungan dan Kuningan menjadi pengingat bahwa keberagaman bukan sekadar realitas, tetapi anugerah yang harus dijaga bersama. Peran penyuluh agama Islam dalam momentum ini menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan hanya konsep, tetapi praktik nyata di lapangan.
Dengan terus menghadirkan edukasi, keteladanan, dan kerja sama lintas agama, penyuluh agama Islam turut memperkuat pondasi kerukunan nasional. Sejalan dengan komitmen Kementerian Agama, upaya ini menjadi bagian penting dalam menjaga Indonesia tetap damai, rukun, dan penuh persaudaraan.
Penulis: Widya Iswari
