BONDOWOSO, PD. IPARI BondowosoΒ β Semangat emansipasi Raden Ajeng Kartini berpadu dengan hangatnya silaturahmi pasca Idulfitri dalam kegiatan Halal Bihalal dan Peringatan Hari Kartini yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Selasa (14/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Ki Hajar Dewantara ini menghadirkan Penyuluh Agama Tenggarang, Ahmad Bersih Saifur Rahman, sebagai narasumber utama. Dalam penyampaiannya, ia mengupas sosok Kartini tidak hanya dari sisi historis, tetapi juga sebagai inspirasi gaya hidup perempuan Muslimah di era digital yang penuh tantangan.
Dalam pemaparannya, Ahmad Basri menekankan tiga poin penting yang relevan dengan kehidupan modern, khususnya bagi anggota DWP.

Pertama, pentingnya mengasah keterampilan (skill) sebagai bagian dari ibadah. Menurutnya, perjuangan Kartini adalah perjuangan literasi dan peningkatan kapasitas diri.
βPenerus Kartini di lingkungan Dinas Pendidikan harus memiliki skill yang relevan dengan perkembangan zaman, baik dalam mendidik anak, penguasaan teknologi, maupun kewirausahaan. Dalam Islam, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,β tegasnya.
Kedua, ia mengingatkan bahaya budaya βkepoβ (tajassus) dan βfomoβ (fear of missing out) yang kerap berujung pada kebiasaan bergosip atau ghibah. Ia mengajak para anggota untuk lebih selektif dalam berinteraksi sosial, terutama di era digital.
βKartini menulis gagasan dalam surat-suratnya, bukan menulis keburukan orang lain. Mari kita ganti kebiasaan bergosip dengan diskusi yang produktif,β ujarnya.
Ketiga, pentingnya membangun lingkungan yang bebas dari perilaku toxic.
“Momentum halal bihalal, menjadi waktu yang tepat untuk detoksifikasi hati melalui saling memaafkan. Dengan demikian, hubungan antaranggota organisasi dapat terjalin lebih harmonis dan solid.” lanjutnya

Ketua DWP Dinas Pendidikan Bondowoso, Dwi Retno Yuliati Taufan, menyambut positif materi yang disampaikan. Ia menilai pesan yang diberikan sangat relevan dengan peran perempuan, khususnya sebagai istri ASN dan bagian dari organisasi.
βKami diingatkan bahwa menjadi perempuan hebat tidak hanya cerdas secara intelektual melalui skill, tetapi juga bersih secara spiritual dengan menjauhi kepo, fomo, dan ghibah,β tuturnya.
Kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan sesi foto bersama. Para anggota tampak kompak mengenakan kebaya sebagai simbol kebanggaan terhadap identitas perempuan Indonesia yang berakhlakul karimah.
Pewarta: Tim KUA Tenggarang
