BONDOWOSO, PD. IPARI Bondowoso – Setiap tanggal 12 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Ayah Nasional sebagai wujud penghargaan terhadap sosok ayah yang berperan besar dalam keluarga. Ayah bukan sekadar kepala rumah tangga, tetapi juga pelindung, pendidik, dan teladan bagi anak-anaknya. Dalam diamnya, tersimpan cinta dan tanggung jawab yang besar. Ia bekerja keras demi kesejahteraan keluarga dan menjadi sandaran dalam suka maupun duka.
Namun, di tengah arus kehidupan modern, banyak keluarga menghadapi tantangan komunikasi. Rasa lelah, ego, dan kurangnya pemahaman sering kali membuat cinta perlahan pudar. Tak jarang, hal-hal kecil yang tidak diselesaikan dengan kasih sayang berujung pada perceraian. Di sinilah pentingnya peran penyuluh agama Islam, hadir sebagai penebar bahasa cinta untuk menjaga keutuhan keluarga.
Dalam ajaran Islam, ayah memiliki tanggung jawab yang mulia. Ia bukan hanya pemimpin, tetapi juga pengasuh yang harus menebarkan rasa aman dan kasih sayang kepada keluarganya. Rasulullah SAW adalah teladan sempurna dalam hal ini. Beliau adalah ayah dan suami yang lembut dalam tutur kata, penuh perhatian, dan menghormati keluarganya.
Sikap seperti inilah yang perlu diteladani oleh para ayah masa kini, memimpin dengan cinta, mendidik dengan kesabaran, dan berkomunikasi dengan kelembutan. Karena cinta yang disampaikan dengan tutur yang baik dapat menjadi obat bagi hati yang lelah dan benteng bagi keluarga dari perpecahan.
Penyuluh agama Islam memiliki peran strategis dalam membina keluarga sakinah. Melalui bimbingan, ceramah, dan pendampingan, mereka mengajarkan bagaimana membangun rumah tangga dengan komunikasi yang sehat, empati, dan kasih sayang.
Bahasa cinta yang mereka tebarkan bukan sekadar kata manis, tetapi nilai-nilai Islami yang menekankan pentingnya saling menghargai, memahami peran masing-masing, dan menahan diri dari amarah. Mereka mengingatkan bahwa cinta bukan hanya perasaan, tetapi juga tanggung jawab dan ibadah.
Ketika suami dan istri mampu berbicara dengan hati, saling mendengarkan, dan berlapang dada, maka perbedaan akan menjadi kekuatan, bukan alasan untuk berpisah.
Banyak kasus perceraian berawal dari komunikasi yang salah arah, kata-kata yang menyinggung, perasaan yang tidak tersampaikan, atau diam yang disalahartikan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap perbedaan dapat diselesaikan dengan musyawarah dan kasih sayang.
Jika setiap ayah dan ibu membiasakan komunikasi penuh cinta, saling menghormati, berbicara dengan lembut, mendengarkan tanpa menghakimi, maka benteng keluarga akan semakin kuat. Di sinilah sinergi antara peran ayah yang bijak dan bimbingan penyuluh agama yang menebarkan bahasa cinta menjadi penting. Bersama-sama, keduanya berperan menjaga keluarga dari jurang perceraian dan menumbuhkan suasana rumah tangga yang damai, penuh rahmat, dan berkah.
Hari Ayah Nasional bukan hanya momen untuk memberi ucapan, tetapi juga waktu untuk merenungkan peran seorang ayah dalam membangun keluarga sakinah. Melalui dukungan penyuluh agama Islam yang menebarkan bahasa cinta, para ayah diharapkan semakin memahami pentingnya komunikasi yang lembut dan penuh kasih.
Sebab, perceraian tak akan terjadi jika setiap anggota keluarga belajar berbicara dengan hati dan mendengar dengan cinta.
Penulis: Imam Huzaeni
