PD. IPARI Bondowoso – Kita sering mengucapkan kalimat Bismillāhirrahmānirrahīm, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kalimat yang sederhana ini sesungguhnya menyimpan makna yang sangat dalam.
Basmalah bukan sekadar pembuka doa atau kebiasaan sebelum makan, belajar, dan bepergian. Ia adalah cara pandang hidup, bahwa setiap langkah seharusnya dimulai dengan cinta dan kasih sayang.
Dua sifat Allah dalam Basmalah, ar-Rahmān dan ar-Rahīm sama-sama menggambarkan cinta. Namun bukan cinta yang sempit seperti dalam kisah romantis, melainkan cinta yang luas dan menyembuhkan: cinta yang membuat kita peduli, mau memahami dan tidak cepat menghakimi.
Bagi generasi muda di era serba cepat, pesan Basmalah sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa menjadi beriman bukan berarti keras, tapi lembut. Bukan berarti tertutup, tapi terbuka pada kebaikan. Basmalah adalah ajaran moderasi beragama yang paling indah, menjalani agama dengan cinta, bukan dengan kebencian.
Ketika seseorang mengucap Bismillah, sejatinya ia sedang berkata: “Aku ingin memulai sesuatu dengan niat baik, agar tak ada luka yang kutinggalkan.”
Di tengah derasnya arus informasi, siapa yang bisa menuntun anak muda agar tak tersesat di antara konten dan komentar? Di sinilah peran penyuluh agama menjadi sangat penting.
Mereka bukan hanya penceramah di mimbar, tetapi juga teman dialog bagi generasi muda. Mereka hadir di ruang digital, lewat konten kreatif, podcast, video pendek, atau percakapan di media sosial untuk menyampaikan pesan sederhana: “Beragama itu indah, karena agama lahir dari cinta.”
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, Dr. H. Moh. Ali Masyhur, S.Ag., M.H.I, menegaskan, dalam memperkuat profesionalisme, kita tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan dan keterampilan. Ada satu unsur penting yang harus selalu menyertai setiap langkah kita yaitu cinta.
“Mari tanamkan cinta dalam setiap langkah kita, cinta pada profesi, cinta pada negeri, dan cinta karena Allah. Dengan cinta, profesionalisme akan tumbuh, dengan cinta akan penuh makna dan berkah.” ujarnya
Penyuluh agama adalah jembatan antara nilai-nilai ilahi dan realita generasi digital. Mereka menebarkan energi ar-Rahmān dan ar-Rahīm dengan bahasa yang lembut, tidak menggurui, tapi menginspirasi.
Kita semua tengah menuju cita-cita besar, yaitu Indonesia Emas 2045. Namun, emas tidak lahir dari kemarahan. Ia ditempa dengan kesabaran, dibentuk dengan cinta sebagai landasan. Kalimat Bismillah bisa menjadi langkah kecil menuju masa depan yang gemilang. Ketika setiap anak muda, memulai harinya dengan niat baik, belajar dengan cinta, berkarya dengan keikhlasan, dan bergaul dengan toleransi.
Generasi yang hidup dengan Bismillah adalah generasi yang berpikir dengan cinta, bukan prasangka; berjuang dengan kasih, bukan kebencian; dan beragama dengan damai, bukan amarah. Inilah karakter bangsa yang damai, kuat, dan berkelas.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I, dalam acara Sarasehan Peningkatan Profesionalisme Guru dalam Mewujudkan Kurikulum Cinta di Aula Kantor Kemenag Bondowoso, pada Rabu (05/11/2025), menyampaikan pesan mendalam tentang cinta.
“Kalau sudah cinta, pasti berusaha untuk profesional. Kalau sudah cinta, akan mengalah dan tak kenal waktu. Cinta mencipta rasa, membentuk pikiran, dan melahirkan tindakan. Cinta menjadikan yang biasa menjadi luar biasa.”
Ia juga menyampaikan, semua tindakan hendaknya dimulai dengan cinta. Cinta kepada Allah, kepada sesama, dan kepada negeri ini. Karena hanya cinta yang berlandaskan rahmat Allah, akan menuntun kita menjadi generasi emas Indonesi, kuat dalam iman, lembut dalam hati dan berkarya dengan penuh makna.” jelasnya
“Jadi, mulai hari ini, sebelum memulai kegiatan, cobalah ucapkan secara perlahan bismillāhirrahmānirrahīm. Rasakan maknanya dan rasakan getarannya.” tutupnya
Oleh: Imam Huzaeni
Editor: Ali Wafi
