Demi Pena dan Alam yang Ditulis Ulang: Ekoteologi dalam Dakwah Penyuluh Agama

Tafsir Tematik (نۤ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ)

PD. IPRAI Bondowoso – Nun. Wal-qalami wa ma yasthurun, artinya: “Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam: 1)

Ketika Allah bersumpah dengan pena, hal itu bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap alat tulis, melainkan pengakuan terhadap kekuatan ilmu, catatan, dan tanggung jawab moral manusia. Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya kerusakan lingkungan seperti sekarang, ayat ini menjadi semakin relevan. Pena hari ini tidak hanya menulis huruf, tetapi juga mencatat bagaimana manusia memperlakukan bumi yang diamanahkan kepadanya.

Sebagai penyuluh agama Islam, dakwah tidak semestinya berhenti di ruang ibadah semata, tetapi juga harus hadir di ruang ekologis. Ayat tersebut memanggil kita untuk menjadikan setiap tulisan, ceramah, dan program dakwah sebagai catatan amal terhadap bumi — bukan alat perusak, melainkan sarana pemelihara kehidupan.

Ekoteologi Islam mengajarkan bahwa seluruh ciptaan adalah ayat-ayat Tuhan yang hidup. Pohon, air, udara, hewan, dan tanah semuanya bertasbih kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT: “Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, hanya saja kamu tidak mengerti tasbih mereka” (QS. Al-Isra’: 44). Ketika manusia menjaga kelestarian alam, sejatinya ia sedang ikut bertasbih bersama seluruh makhluk Allah.

Pena dalam konteks ayat ini dapat dimaknai sebagai simbol kesadaran ekologis. Menulis dan bertindak untuk melindungi bumi merupakan bagian dari ibadah dan bentuk nyata penghambaan kepada Sang Pencipta. Di tengah ancaman polusi, banjir, dan krisis air, pena dakwah tidak boleh diam. Ia harus menulis pesan iman yang berakar pada cinta terhadap bumi, sebab menjaga alam berarti menjaga kehidupan yang Allah titipkan.

Dakwah sejati tidak berhenti di mimbar, tetapi menjejak di tanah dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Konsep dakwah ekoteologis berangkat dari kesadaran bahwa bumi juga merupakan penerima dakwah, karena ia adalah amanah Ilahi.

Oleh karena itu, khutbah tentang zakat semestinya tidak hanya berbicara tentang zakat harta, tetapi juga “zakat terhadap alam”, yaitu menjaga air, tanah, dan udara sebagai wujud rasa syukur atas karunia Allah.

Pena dakwah masa kini seharusnya menulis pesan sederhana namun bermakna: “Menanam satu pohon adalah sedekah oksigen.” Setiap aksi penghijauan menjadi ibadah kolektif yang bernilai sosial sekaligus spiritual.

Penyuluh agama adalah pena kehidupan di tangan Tuhan dalam ruang sosial. Melalui lisan, tulisan, dan keteladanan, penyuluh agama menulis arah peradaban. Berbagai kegiatan seperti “masjid ramah lingkungan, gerakan sedekah sampah atau santri hijau” merupakan wujud konkret dari makna kata “ma yasthurun”, apa yang mereka tuliskan dalam tindakan nyata. Dakwah ekologis bukan hal baru dalam Islam. Rasulullah Saw telah mencontohkan prinsip ramah lingkungan sejak awal. Rasulullah Saw melarang penebangan pohon tanpa keperluan yang benar, menganjurkan hemat air meskipun di sumber yang melimpah, serta memuliakan tanah sebagai bagian dari ibadah. Nilai-nilai inilah yang perlu dihidupkan kembali dalam konteks modern.

Ketika pena menulis, sesungguhnya ia sedang menorehkan sejarah. Pertanyaannya, sejarah seperti apa yang ingin kita wariskan? Apakah bumi yang tandus dan tercemar, atau bumi yang hijau dan penuh keberkahan?

“Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” adalah panggilan untuk menulis iman dalam bentuk tindakan nyata, mencintai bumi sebagaimana kita mencintai Tuhan. Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab sosial, melainkan juga perintah teologis.

Pena adalah saksi peradaban. Ia menulis ilmu, amal, bahkan dosa manusia. Maka, demi pena dan bumi yang kita pijak, marilah kita menulis ulang sejarah dakwah Islam sebagai dakwah yang ramah lingkungan. Setiap langkah penyuluh, setiap kata dalam khutbah, dan setiap pohon yang ditanam adalah bagian dari tulisan besar yang kelak akan dibaca di hadapan Allah.

Ketika pena dakwah menulis nilai keimanan dan akhlak, ia turut membentuk masa depan. Di tengah krisis ekologis global, pena itu harus menulis satu bab baru, bab tentang pelestarian bumi. Di tangan penyuluh agama, pena dakwah dapat menjadi tongkat perubahan yang menggerakkan umat untuk memperlakukan bumi sebagai amanah ilahi, bukan sebagai objek eksploitasi.

Pada akhirnya, tulisan kita tidak hanya berbicara tentang manusia yang menjadi sasaran dakwah, tetapi juga tentang alam yang kita warisi serta generasi yang akan mewarisinya kelak. Karena itu, demi pena dan segala yang kita tuliskan, marilah kita menulis dan menanamkan cinta kepada bumi sebagai wujud iman yang hidup, memberi manfaat, dan membawa kebaikan bagi seluruh semesta.

Oleh: Imam Huzaeni – Penyuluh Agama Islam