IPARI Kecamatan Sumberwringin dalam Ekoteologi Islam: Membangun Kemandirian Melalui Estetika Lingkungan

EKOTEOLOGI ISLAM, IPARI Kecamatan Sumberwringin – Dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan materialistik, isu lingkungan sering kali terpinggirkan dari kesadaran spiritual masyarakat. Padahal, dalam pandangan Islam, menjaga kelestarian alam merupakan bagian integral dari keimanan dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.

Kesadaran inilah yang menjadi dasar bagi para Penyuluh Agama Islam (PAI) di Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, untuk mengembangkan gerakan dakwah berbasis ekoteologi Islam, sebuah pendekatan yang menautkan nilai-nilai teologis dengan etika lingkungan dan estetika kehidupan.

Ekoteologi Islam memandang bahwa seluruh makhluk di alam semesta adalah manifestasi dari kebesaran Allah SWT. Alam bukan sekadar sumber daya, tetapi juga ayat-ayat kauniyah yang mencerminkan keagungan Sang Pencipta. Oleh karena itu, merawat dan melestarikan lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga ibadah yang bernilai spiritual tinggi.

Penyuluh Agama Islam Kecamatan Sumberwringin, Holilur Rahman, S.Pd.I menegaskan penyuluh agama memiliki peran strategis dalam menginternalisasikan nilai-nilai ekoteologi ini di tengah masyarakat.

β€œPenyuluh harus menjadi teladan dalam mewujudkan Islam yang ramah lingkungan. Dakwah tidak cukup berhenti di mimbar, tetapi harus hadir dalam praktik nyata, seperti mengajak masyarakat menanam pohon, mengelola sampah, serta menata lingkungan agar bersih dan indah,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, salah satu aspek menarik dari pendekatan dakwah penyuluh agama di Sumberwringin adalah penekanan pada nilai estetika.

Dalam Islam, keindahan bagian dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda yang artinyaβ€œSesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim).

β€œMenjaga alam bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bentuk ibadah. Ketika masyarakat diajak membersihkan lingkungan, menanam pohon dan mengelola sampah secara bijak, sesungguhnya mereka sedang menegakkan nilai ihsan dalam kehidupan,” ujarnya.

Melalui nilai estetika ini, penyuluh agama berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa keindahan lingkungan adalah cerminan dari kebersihan hati dan ketulusan beribadah. Kondisi Musholla dan lingkungan di KUA Sumberwringin yang tertata rapi dan hijau bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Salah satu penyuluh agama, Mukhlish, S.Pd., menjelaskan nilai estetika menjadi pintu masuk dakwah yang efektif.

β€œKetika masyarakat diajak menanam bunga di halaman rumah atau menata taman di musholla, mereka belajar mencintai keindahan yang selaras dengan nilai religius. Dari keindahan lahir ketenangan, dan dari ketenangan tumbuh keimanan,” ungkapnya.

Gerakan dakwah lingkungan yang dijalankan penyuluh agama di Sumberwringin tidak hanya berorientasi pada pelestarian alam, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemandirian masyarakat. Melalui program-program seperti pengelolaan sampah organik, pemanfaatan pekarangan produktif, serta pelatihan pembuatan pupuk kompos, masyarakat didorong untuk mampu mengelola potensi lokal secara berkelanjutan.

Kemandirian ini sejalan dengan nilai tawazun (keseimbangan) dalam Islam, yaitu keseimbangan antara spiritualitas dan kebutuhan hidup. Dengan mengelola lingkungan secara bijak, masyarakat tidak hanya menjaga keberlanjutan ekosistem, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.

β€œPenyuluh agama berperan sebagai penggerak perubahan sosial. Mereka hadir untuk mengedukasi sekaligus memberdayakan masyarakat agar tidak hanya sadar lingkungan, tetapi juga mandiri secara ekonomi dan spiritual,” tutup Mukhlish.

Pendekatan ekoteologi Islam yang dikembangkan oleh para penyuluh di Sumberwringin menunjukkan bahwa dakwah dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian alam. Dakwah tidak lagi hanya bersifat verbal, tetapi juga transformatif, mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat agar lebih beretika terhadap lingkungan.

Gerakan ini menjadi wujud nyata implementasi visi Kementerian Agama dalam mewujudkan masyarakat religius yang moderat, mandiri, dan peduli terhadap keberlanjutan bumi. Ekoteologi Islam menjadi jembatan antara iman dan aksi nyata, sedangkan estetika menjadi ruh yang menghidupkan kesadaran akan keindahan ciptaan Allah SWT.

Melalui sinergi antara nilai spiritual, etika lingkungan, dan kemandirian masyarakat, gerakan dakwah ekoteologis ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam membangun peradaban Islam yang berkeadaban, berkelanjutan, dan penuh keindahan.

Pewarta: Wafi