Opini, PD IPARI Bondowoso – Kritik terhadap pesantren belakangan ini ibarat demam musiman: datang bergelombang, penuh gairah, namun sering kali lupa membaca suhu tubuhnya sendiri. Ia mengaku ingin menyembuhkan, tapi kerap lebih sibuk mengeluh daripada mendiagnosis.
Bahwa pesantren perlu berbenah, siapa yang menyangkal? Namun membenahi pesantren bukan perkara sederhana seperti memperbaiki atap bocor. Pesantren bukan sekadar bangunan, melainkan lembaga yang berdiri di atas ruh, tradisi, dan barakah. Karena itu, sebelum sibuk menyoal βtata kelola,β sebaiknya pahami dulu βtata kelakuan.β
Sebagian orang berkata, βPesantren itu milik umat.β Betul. Tapi umat yang bagaimana? Apakah umat yang turut menyokong, mendoakan, dan berkhidmah, atau umat yang hanya menonton dari luar pagar, lalu menuding karena tak memahami bahasa yang hidup di balik tembok? Pesantren memang lahir dari masyarakat, tetapi bukan berarti harus tunduk pada selera masyarakat yang sedang trending di linimasa.
Sebab pesantren bukan hotel. Ia tidak menjual pelayanan, ia menanam nilai. Ia tidak menawarkan kenyamanan, ia mengajarkan ketabahan. Yang diukur bukan fasilitasnya, melainkan hasil tempanya. Santri bukan tamu; mereka adalah peziarah ilmu, yang datang untuk ditempa, bukan untuk dilayani.
Kini muncul istilah βtransparansiβ dan βdemokratisasiβ, dua kata yang indah, namun sering digunakan tanpa memahami ekosistemnya. Pesantren bukan menutup diri; ia hanya tahu bahwa ilmu tidak bisa dipilih lewat voting, dan adab tidak dapat dirumuskan melalui rapat kerja. Tidak semua hal perlu dijelaskan kepada publik yang belum tentu siap memahami konteks spiritual di baliknya. Kadang, yang tampak tertutup justru sedang menjaga kesucian.
Isu-isu seperti bullying, kekerasan, dan ketakdziman tentu harus disikapi serius. Namun menyamaratakan semua pesantren hanya karena segelintir kasus, sama kelirunya dengan menuduh semua dokter korup hanya karena satu rumah sakit melakukan malpraktik. Mungkin yang perlu dibenahi bukan pesantrennya, melainkan cara membaca beritanya.
Kritik boleh, bahkan perlu. Tapi kritik yang lahir dari cinta terasa menyejukkan, sementara kritik yang lahir dari kekecewaan yang dangkal sering kali hanya menambah luka. Kritik yang beradab mengetuk pintu, bukan menggedor pagar sambil berteriak.
Yang sering dilupakan: pesantren bukan lembaga steril dari manusia. Di dalamnya ada yang saleh, ada yang lemah, dan ada pula yang masih belajar menjadi lebih baik β sama seperti masyarakat yang mengaku βmelihat dari luar pagar.β Bedanya, pesantren memiliki tradisi muhasabah harian, sementara masyarakat lebih sering bermuhasabah lewat kolom komentar Instagram.
Jika benar pesantren dan umat itu satu tubuh, maka mungkin tubuh ini kini sedang demam β bukan karena penyakit, tapi karena infeksi kata-kata. Dan yang ironis, sebagian obat justru datang dari tangan yang sama yang melukai.
Pesantren tidak anti kritik. Tapi ia paham, tidak semua kritik lahir dari niat yang bersih. Maka ia memilih diam, bukan karena tak mampu menjawab, melainkan karena sedang menahan diri. sesuatu yang tampaknya di luar sana semakin langka.
Penulis: KH. Khalily Firdaus, M.Ag (Penyuluh Agama Islam Kecamatan Wonosari)
